𝗕𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗢𝗻𝗹𝗶𝗻𝗲 & 𝗧𝗲𝗹𝗲𝘃𝗶𝘀𝗶



Minggu, 22 Februari 2026

IBU DAN ANAK PALESTINA DIGEMPUR SAAT SAHUR

 

Anak-anak Palestina terancam kekurangan nutrisi karena perang. (foto: Antara)

𝐓𝐇𝐄 𝐑𝐄𝐏𝐎𝐑𝐓𝐄𝐑 - Di sebuah desa kecil di Tepi Barat, Palestina, seorang ibu dari lima anak menceritakan bagaimana keluarganya meninggalkan rumah sebelum fajar setelah mendengar tembakan dan teriakan di sekitar permukiman mereka.

“Kami hanya membawa pakaian yang kami kenakan. Anak-anak menangis karena tidak sempat mengambil buku sekolah mereka,” katanya.

Rumah yang mereka tinggalkan kini kosong. Lahan pertanian keluarga yang menjadi sumber penghidupan utama juga rusak.

Anak-anak yang seharusnya duduk di bangku sekolah kini tinggal di rumah kerabat atau tempat penampungan sementara, menghadapi trauma dan ketidakpastian masa depan.



PBB: 4.700 Warga Palestina di Tepi Barat Terusir

Eskalasi kekerasan yang terus meningkat dengan gelombang serangan Israel di Tepi Barat mengakibatkan pengusiran paksa terhadap sekitar 880 keluarga Palestina, atau lebih dari 4.700 orang.

Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, dalam konferensi pers Jumat (21/2/2026), menegaskan bahwa rekan-rekan kemanusiaan PBB telah memperingatkan tentang kekerasan yang berkelanjutan dan praktik-praktik paksaan yang dilakukan oleh pasukan dan pemukim Israel.

“Serangan pemukim di Tepi Barat telah mengusir sekitar 880 keluarga Palestina, dengan total lebih dari 4.700 orang,” ujar Dujarric.

Dujarric menjelaskan bahwa antara 3 hingga 6 Februari, pasukan Israel membunuh tiga warga Palestina, sehingga jumlah korban tewas tahun ini meningkat menjadi sembilan orang, termasuk dua anak-anak.

Ia juga mencatat bahwa setidaknya 86 serangan oleh pemukim Israel tercatat dalam periode tersebut, menyebabkan lebih dari 60 warga Palestina terluka dan sekitar 146 orang lainnya terpaksa mengungsi.

Dalam pernyataannya, Sekretaris Jenderal PBB mengutuk pembunuhan Nasrallah Abu Siam, seorang warga Palestina-Amerika berusia 19 tahun, yang tewas dalam serangan pemukim di Tepi Barat yang diduduki.

Dalam insiden yang sama, tiga warga Palestina lainnya dilaporkan ditembak dan mengalami luka-luka. 
Menurut badan-badan kemanusiaan PBB, kekerasan di Tepi Barat tidak hanya berupa bentrokan bersenjata, tetapi juga mencakup penghancuran properti, intimidasi, serta praktik-praktik yang memaksa warga meninggalkan rumah mereka.

Organisasi hak asasi manusia internasional berulang kali memperingatkan bahwa pengusiran paksa terhadap penduduk sipil di wilayah pendudukan dapat melanggar hukum humaniter internasional, termasuk Konvensi Jenewa Keempat.

Laporan PBB menunjukkan bahwa banyak keluarga yang meninggalkan rumah mereka melakukannya setelah menghadapi ancaman langsung, pembakaran properti, atau perusakan infrastruktur dasar seperti sumber air dan lahan pertanian.

Sejumlah negara dan organisasi internasional menyuarakan keprihatinan atas meningkatnya kekerasan pemukim. Uni Eropa dan beberapa anggota Dewan Keamanan PBB sebelumnya menyerukan penghentian segera aktivitas pemukiman dan kekerasan terhadap warga sipil.

Meski demikian, warga Palestina di Tepi Barat mengatakan bahwa respons internasional belum menghasilkan perlindungan nyata di lapangan.

“Setiap hari kami takut. Tidak ada yang melindungi kami,” ujar seorang petani yang lahannya dirusak.

 

Kekerasan di Tepi Barat terjadi bersamaan dengan krisis kemanusiaan besar di Jalur Gaza. Pengamat menyebut eskalasi di kedua wilayah ini sebagai bagian dari tekanan sistematis terhadap masyarakat Palestina, baik melalui operasi militer, blokade, maupun perluasan permukiman.

PBB menegaskan kembali pentingnya perlindungan warga sipil dan penghormatan terhadap hukum internasional. Namun, tanpa mekanisme penegakan yang efektif, laporan-laporan pelanggaran terus bertambah, sementara ribuan keluarga Palestina menghadapi kenyataan pahit kehilangan rumah dan tanah mereka.[]


Share:

0 comments:

𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮 𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗜𝗻𝗶