
Seekor Gajah Sumatera Betina Ditemukan Mati Diduga Terkena Kawat Listrik Bertegangan Tinggi di Desa Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah(doc, foto: BKSDA Aceh)
Konflik Manusia dan Gajah di Aceh
𝐓𝐇𝐄 𝐑𝐄𝐏𝐎𝐑𝐓𝐄𝐑 | Aceh - Konflik antara manusia dan gajah liar di Wilayah Aceh menjadi sorotan. Baru-baru ini, seorang warga dilaporkan meninggal dunia karena trinjak gajah.
Selain itu, juga ada gajah betina yang mati akibat tersengat kawat yang dialiri listrik.
Pada Sabtu, (21/2/2026), seorang petani berusia 53 tahun, warga Kampung Pantan Lah, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah, meninggal karena terinjak kawanan gajah Sumatera.
Pada Jumat (20/2/2026), seekor gajah Sumatera betina ditemukan mati di Desa Karang Ampar Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Ujang Wisnu Barata mengatakan, dugaan sementara kematian gajah berusia sekitar 20 tahun tersebut karena terkena sengatan kawat yang dialiri arus listrik bertegangan tinggi.
"Saat ditemukan warga, belalai gajah masih terlilit kawat listrik," katanya.
"Pemasangan kawat berarus listrik tegangan tinggi membawa risiko besar yang tidak hanya membahayakan satwa liar, tetapi juga keselamatan jiwa kita sendiri, keluarga, dan warga sekitar," lanjut Kepala BKSDA Aceh Ujang.
Menindaklanjuti informasi tersebut, tim BKSDA Aceh bersama personel Polsek Karang Ampar, Babinkamtibmas, dan mitra WWF Indonesia langsung melakukan pengecekan ke lokasi kejadian.
Sementara itu, Ketua Forum Koordinasi Peusangan Elephant Conservation Initiative (FKP PECI), Sri Wahyuni menilai, peristiwa tersebut menunjukan penanganan konflik antara gajah dan manusia belum berjalan efektif.
"Kita terus mendesak adanya langkah strategis dan nyata dalam penanganan konflik gajah dan manusia khususnya di wilayah tengah Aceh," kata Sri Wahyuni, Sabtu, 22 Februari 2026.
Menurut Sri, peristiwa-peristiwa tersebut harus menjadi alarm bagi seluruh pihak, khususnya Pemerintah, BKSDA dan lembaga konservasi yang sedang bekerja di kawasan rentan konflik satwa dan manusia.
FKP juga menegaskan pentingnya keterlibatan CSO lokal dalam penyelesaian konflik, karena dinilai lebih memahami akar dan persoalan melalui pendekatan kearifan lokal.
Sri mengatakan saat ini beberapa CSO lokal dari Bener Meriah dan Aceh Tengah telah tergabung dalam FKP PECI. CSO lokal telah melakukan sosialisasi di 12 desa rawan konflik, termasuk Desa Pantan Lah, dan telah menemukan jalur lintasan gajah serta titik rawan interaksi.
"Hingga kini belum ada langkah strategis lanjutan menanggapi temuan tersebut, justru masih ada korban tewas karena berkonflik dengan gajah," tuturnya.
Sri Wahyuni juga menyoroti perkebunan sawit di kawasan koridor gajah yang mempersempit ruang jelajah satwa dan menjadi pemicu konflik.
Khususnya, di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah.
Pemerintah diminta mengkaji ulang izin perusahaan sawit serta menindak tegas perusahaan yang terbukti melampaui izin.
Selain itu, FKP meminta pemerintah untuk melibatkan CSO lokal dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh.
Dia juga mendesak evaluasi total strategi mitigasi konflik. Terkait matinya Gajah Betina di Karang Ampar, Sri dengan tegas melarang penggunaan fencing oleh warga atau korporasi untuk menghalau gajah.
"Kami juga mengimbau masyarakat jangan menggunakan fencing dengan arus tinggi yang mematikan, tindakan itu jelas-jelas melanggar hukum," tegasnya.





