Oleh: Muhammad Habil Al Faraby - Mahasiswa Aceh Tamiang
𝐑𝐞𝐩𝐨𝐫𝐭𝐞𝐫𝐋𝐞𝐠𝐞𝐧𝐝.𝐜𝐨𝐦 | Opini — Bencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025 meninggalkan dampak besar bagi kehidupan masyarakat. Pemulihan tidak hanya berkaitan dengan rumah, jalan, dan mata pencaharian, tetapi juga keberlangsungan pendidikan.
Sebagai mahasiswa sekaligus putra daerah Aceh Tamiang, saya berharap pendidikan menjadi salah satu perhatian utama dalam proses pemulihan. Sebab, di balik setiap anak yang terdampak bencana, ada cita-cita dan masa depan yang tetap harus dijaga.
Pascabencana, tantangan pendidikan tidak hanya terlihat dari kerusakan bangunan sekolah. Anak-anak juga dapat menghadapi kesulitan belajar akibat kehilangan perlengkapan sekolah, perubahan tempat tinggal, keterbatasan akses, hingga tekanan psikologis setelah mengalami bencana. Dalam kondisi keluarga yang masih berjuang memulihkan kehidupan, pendidikan berisiko tersisih oleh kebutuhan yang lebih mendesak. Karena itu, memastikan anak-anak dapat kembali belajar merupakan bagian penting dari upaya memulihkan kehidupan masyarakat secara menyeluruh.
Menurut saya, pemulihan pendidikan tidak cukup hanya dengan memperbaiki fasilitas sekolah. Pemerintah daerah bersama pihak terkait perlu memastikan kegiatan belajar berlangsung secara aman dan layak, termasuk menyediakan alternatif pembelajaran apabila sekolah belum dapat digunakan. Kebutuhan guru dan peserta didik juga perlu diperhatikan agar proses belajar tidak sekadar kembali berjalan, tetapi benar-benar mampu mendukung perkembangan anak. Pemulihan pendidikan harus menyesuaikan kondisi setiap sekolah dan kebutuhan masyarakat yang terdampak.
Selain fasilitas, kondisi psikologis peserta didik juga tidak boleh diabaikan. Pengalaman menghadapi banjir dan kehilangan dapat memengaruhi rasa aman, konsentrasi, serta semangat belajar anak. Guru, orang tua, dan lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam membantu mereka kembali beradaptasi. Oleh karena itu, pendampingan dan pendekatan pembelajaran yang ramah anak perlu menjadi bagian dari pemulihan. Anak-anak membutuhkan ruang yang membuat mereka merasa aman untuk belajar, bermain, dan kembali membangun harapan.
Lebih jauh, saya berharap bencana ini menjadi momentum untuk membangun pendidikan Aceh Tamiang yang lebih tangguh. Perbaikan dan pembangunan kembali sekolah perlu mempertimbangkan risiko bencana serta keselamatan warga sekolah. Pendidikan kebencanaan juga perlu diperkuat agar peserta didik memahami cara menyelamatkan diri, mengenali risiko di lingkungan sekitar, dan mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika keadaan darurat terjadi. Dengan begitu, sekolah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk membangun kesiapsiagaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Sebagai mahasiswa Aceh Tamiang, saya percaya bahwa generasi muda juga dapat mengambil bagian dalam proses pemulihan. Mahasiswa dapat berkontribusi melalui pendampingan belajar, kegiatan literasi, pengumpulan perlengkapan sekolah sesuai kebutuhan, maupun kolaborasi dengan komunitas dan lembaga pendidikan. Keterlibatan tersebut tentu perlu dilakukan dengan berkoordinasi bersama pihak terkait agar bantuan yang diberikan tepat sasaran. Kita tidak harus menunggu memiliki sumber daya yang besar untuk mulai berkontribusi. Kepedulian yang dilakukan secara bersama-sama dapat menjadi langkah berarti bagi anak-anak yang sedang berusaha kembali menata masa depannya.
Saya juga berharap perhatian terhadap pendidikan pascabencana tidak berhenti ketika kondisi darurat mulai berlalu. Pemulihan membutuhkan proses yang berkelanjutan, mulai dari perbaikan fasilitas, pemenuhan kebutuhan belajar, dukungan bagi guru, hingga peningkatan kesiapsiagaan sekolah. Pemerintah, masyarakat, orang tua, mahasiswa, dan berbagai pihak perlu membangun kerja sama sesuai perannya masing-masing. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya kembali berjalan, tetapi juga memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi berbagai tantangan pada masa mendatang.
Pada akhirnya, sebagai putra daerah, saya ingin melihat anak-anak Aceh Tamiang kembali belajar dengan aman dan bersemangat mengejar cita-cita mereka. Bencana mungkin telah mengubah banyak hal, tetapi jangan sampai menghilangkan kesempatan generasi muda untuk meraih masa depan yang lebih baik. Saya berharap pemulihan pendidikan menjadi komitmen bersama yang terus dijaga, bukan sekadar perhatian sementara setelah bencana. Sebab, membangkitkan pendidikan bukan hanya tentang mengembalikan anak-anak ke ruang kelas, melainkan juga menjaga harapan mereka dan mempersiapkan masa depan Aceh Tamiang yang lebih baik.
